Selamat Datang dan Selamat Membaca

Puasa Keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS. al-Baqarah: 183).
Alhamdulillah, dengan nikmat dan izin Allah Subhanallahu wa ta’ala kita diberi kesempatan menyambut kembali bulan suci Ramadan, sehingga kita bisa menjalankan ibadah puasa yang Allah Subhanallahu wa ta’ala perintahkan, seperti yang telah dijelaskan ayat al-Qur’an di atas.
Di lingkungan keluarga, tentunya kita mempunyai cara tersendiri untuk menjadikan Ramadhan, bulan yang penuh berkah itu sebagai satu bulan yang sangat indah dan berharga. Akan tetapi, alangkah baiknya, jika kita bisa meneladani dan mencontoh bagaimana puasa keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam., sehingga puasa yang kita lakukan penuh dengan berkah dan diterima Allah Subhanallahu wa ta’ala.
Lantas, bagaimana puasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dan keluarganya? Apakah selama ini kita telah meneladani beliau dalam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan? 
Para pembaca yang budiman, perlu kita ketahui, bahwa pada zaman dahulu, ketika bulan Ramadhan tiba, salah satu kegiatan yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam beserta keluarganya ialah membersihkan serta menyucikan diri, yakni dengan cara meminta maaf dan bersilaturahim kepada para kerabatnya. Hal ini dilakukan agar dalam melakukan puasa, keadaan kita bersih dari hadas maupun bersih dari hal-hal yang dapat memakruhkan puasa kita nanti, sehingga puasa yang kita kerjakan mendapat pahala serta tidak menjadi sia-sia. Sama halnya ketika kita akan melakukan salat, sebelum mengerjakan salat, kita mengambil air wudhu atau mandi besar dahulu agar diri kita bersih dari hadas kecil maupun hadas besar.     
Kemudian, sebagaimana yang sering kita rasakan, bahwa setiap menjelang bulan Ramadhan, harga-harga barang pokok/sembako menjadi naik, bahkan hampir dua kali lipat dari harga biasanya. Namun, sebagian dari kita selalu memaksakan membeli barang-barang tersebut dengan alasan untuk kebutuhan puasa nanti. Jika kita melihat yang demikian itu,  Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam sendiri telah mengajarkan kesederhanaan, seperti ketika puasa, beliau hanya berbuka dengan memakan tiga buah kurma.
Para pembaca yang budiman, dalam mengerjakan puasa, seharusnya kita mengharapkan nilai ibadah yang tinggi bukan menyajikan makanan yang banyak serta beragam jenisnya yang akhirnya akan merusak ibadah puasa kita ini. Kita boleh saja menata dan menyiapkan makanan untuk sahur dan juga berbuka, namun dengan catatan tidak berlebih-lebihan dan juga menyiapkan makanan yang bergizi, sehingga di samping kita bisa meneladani kesedarhanaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, kita pun bisa mengerjakan puasa dengan lancar.
Ketika berbuka tiba, hendaknya kita pun mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dengan menyegerakan berbuka dan juga juga dengan makanan yang manis-manis dahulu seperti kurma yang telah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam contohkan. Hal ini berdasarkan hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dari Anas bin Malik, ia berkata, Adalah Rasulullah berbuka dengan Rutab (kurma yang lembek) sebelum shalat, jika tidak terdapat Rutab, maka beliau berbuka dengan Tamr (kurma kering), maka jika tidak ada kurma kering beliau meneguk air (HR. Ahmad dan Abu Dawud).
Berbuka dengan yang manis-manis akan membuat perut kita kenyang, sehingga kita bisa melakukan ibadah lainnya dengan baik tanpa merasakan perut lapar setelah berpuasa seharian. Akan tetapi, kita pun ingat, jangan sampai perut kita terlalu kenyang karena justru akan mengakibatkan rasa ngantuk, sehingga kita tidak bisa melaksanakan ibadah lainnya, seperti salat magrib dan salat isya serta salat terawih yang biasa dikerjakan sesudah salat isya di bulan Ramadhan. 
            Para pembaca yang budiman, adapun keutamaan puasa adalah seperti dalam suatu hadis dari Abu Hurairah ra., bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam telah bersabda, Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh iman dan ihtisab (mengharap wajah Allah) maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR. Bukhari dan Muslim). Perlu kita ketahui bahwa makna dari "penuh iman dan Ihtisab", yakni membenarkan wajibnya puasa, mengharap pahalanya, hatinya senang dalam mengamalkan, tidak membencinya, tidak merasa berat dalam mengamalkannya.
            Dengan demikian, marilah kita senantiasa meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam apa yang beliau lakukan ketika bulan Ramadhan tiba serta mengerjakan puasa dengan penuh iman dan ihtisab. Mudah-mudahan puasa kita mendapat berkah dan diterima Allah Subhanallahu wa ta’ala. Aamiin…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar