Selamat Datang dan Selamat Membaca
Tampilkan postingan dengan label Menuju Keluarga Sakinah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menuju Keluarga Sakinah. Tampilkan semua postingan

Rumahku Surgaku

Rumahku surgaku, tempat berlabuh hati yang teduh...
Rumahku surgaku, tempat di mana jiwa berlabuh...
Rumahku surgaku, tempat di mana rindu berteduh...

Itulah sepenggalan lirik lagu “Rumahku Surgaku” dari salah satu grup nasyid terbaik. Siapa yang tidak mau memiliki rumah seperti surga yang di dalamnya bisa menyejukkan hati, menyejukkan jiwa?
Memiliki rumah layaknya di surga adalah impian semua orang. Ketika rasa lelah, cape karena banyaknya pekerjaan di luar sana, maka rumahlah salah satu tempat yang dijadikan tempat beristirahat, tempat berteduh juga tempat berlabuhnya kerinduan kepada mereka yang disayang.
Terciptanya rumah bak surgawi karena mereka suami istri yang bisa saling melengkapi, mereka yang bisa saling memahami, mereka yang bisa saling mengerti, mereka yang bisa saling menjaga, dan mereka pula yang saling menutupi aibnya. Keduanya menjalankan hak dan kewajibannya sesuai yang telah ditentukan sesuai syariat Islam.
Di dalam rumahnya pun tercipta suasana Islami. Suasana yang dihiasi dengan perintah-perintah Allah Subhanallahu wa ta'ala. Suasana seperti yang selalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam contohkan terhadap keluarganya. Suami yang selalu melindungi, mengajak istri dan anak-anaknya untuk melakukan shalat berjamaah. Suami yang mengajarkan istri dan anak-anaknya untuk selalu taat dan patuh terhadap perintah Allah Subhanallahu wa ta'ala dan sunah Rasul-Nya, serta menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup dan bersama-sama melantunkan ayatnya dengan indah. Begitupun sang istri mampu menjaga kehormatan suami dan menjaga amanatnya sebagai seorang istri sekaligus seorang ibu yang selalu patuh dan taat pada suami serta menjaga anak-anaknya dengan penuh kasih sayang.
Pertengkaran dan perbedaan pendapat mungkin tidak bisa dihindari karena itulah salah satu bumbu dalam membangun sebuah keluarga. Namun, itu semua bisa diatasi dengan sama-sama bisa saling mengerti, tidak saling egois, dan bisa menyikapinya dengan kepala dingin.

Dengan begitu, Insya Allah harapan dan keinginan kita memiliki rumah bak surgawi bisa terkabul dan menjadi keluarga sakinnah, mawaddah, warrahmah. Mudah-mudahan juga kelak di akhirat sana kita masih bisa berkumpul bersama keluarga yang terkasih.  Aamiin 

CARA MENGHORMAT SUAMI


Salah satu kunci keluarga sakinah adalah adanya saling  memahami dan menghormati antara suami istri dalam menjalankan kehidupan rumah tangganya. Seorang suami yang beriman, tentunya bisa memberikan dan mengarahkan istri serta anak-anaknya untuk terus berada di jalan Allah Subhanallahu wa ta'ala. Begitupun dengan istri yang shalehah, ia bisa menghormati dan memenuhi kewajibannya terhadap keluarganya, terutama terhadap suaminya.
Memiliki rasa hormat terhadap suami adalah perbuatan yang sangat mulia dan perbuatan ini akan membawanya kepada keridhaan Allah Subhanallahu wa ta'ala. Syariat Islam telah menetapkan seorang suami memiliki hak yang sangat besar terhadap istrinya, sampai-sampai bila diperkenankan oleh Allah Subhanallahu wa ta'ala, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam akan memerintahkan seorang istri sujud kepada suaminya.
Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku perintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya. Dan tidaklah seorang istri dapat menunaikan seluruh hak Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadapnya hingga ia menunaikan seluruh hak suaminya. Sampai-sampai jika suaminya meminta dirinya (mengajaknya jima’) sementara ia sedang berada di atas pelana (yang dipasang di atas unta) maka ia harus memberikannya (tidak boleh menolak) (HR. Ahmad).
Sebagai seorang istri yang shalehah, kita harus mencari keselamatan dari adzab Allah Subhanallahu wa ta'ala melalui suami, yakni dengan cara menghormati serta menunaikan hak-hak suami. Hal ini karena suami adalah jembatan untuk meraih kenikmatan surga atau bisa juga sebaliknya malah membawa dirinya ke jurang neraka.
Ketika kita menghormati dan melaksanakan apa yang suami perintahkan selama apa yang diperintahkan olehnya tidak menyimpang, maka kita harus benar-benar menurutinya dan semata-mata mengharap ridha Allah Subhanallahu wa ta'ala. Lantas, bagaimana caranya kita menghormati suami? Hal ini bisa kita ambil contoh kasus, yakni ketika dalam waktu yang bersamaan orangtua dan suami menyuruh kita, apakah kita harus mendahulukan perintah orangtua yang telah melahirkan kita atau perintah suami?
Perlu kita perhatikan, orangtua adalah seseorang yang telah melahirkan dan membesarkan kita. Akan tetapi, ketika kita sudah berumah tangga, maka hal yang harus pertama kita lakukan adalah menaati apa yang telah diperintahkan suami, karena kita sudah menjadi tanggung jawab suami. Dengan demikian, jika ada kasus seperti contoh di atas, ketika dalam waktu bersamaan orangtua dan suami menyuruh kita, maka kita harus mendahulukan kepentingan suami. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanallahu wa ta'ala, …maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)… (QS. an-Nisaa’: 34)
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah pun mengatakan dalam Majmu Fatawa(32/261), “Seorang perempuan jika telah menikah maka suami lebih berhak terhadap dirinya dibandingkan kedua orang tuanya dan mentaati suami itu lebih wajib dari pada taat orang tua”.
Ketika kita memilih mendahulukan perintah suami daripada perintah orangtua, maka itulah cara kita untuk menghormati suami. Selain itu, masih banyak juga cara kita dalam menghormati suami, yakni ketika kita akan melakukan ibadah sunat, seperti puasa, maka kita harus meminta izin dahulu terhadapnya. Hal ini berdasarkan hadis Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam, Tidak diperbolehkan bagi seorang perempuan berpuasa di saat suaminya di rumah, kecuali dengan seizinnnya (HR. Bukhari).  
Menghormati serta mendahulukan kepentingan dan kemauan suami lebih besar pahala yang akan kita dapatkan dibandingkan ketika mengerjakan ibadah sunat lainnya. Untuk itu, marilah kita senantiasa terus meraih ridha suami serta ridha Allah Subhanallahu wa ta'ala untuk menuju surga-Nya, karena istri-istri yang menghormati suaminya adalah istri-istri calon penduduk surganya Allah Subhanallahu wa ta'ala. Aamiin










SIAPAKAH SUAMI DAYUS ITU?

Tanggung jawab seorang suami atau ayah sangatlah besar, sehingga keselamatan keluarganya baik di dunia maupun di akhirat kelak ada pada suami atau ayah tersebut. Memiliki rasa kasih sayang yang besar terhadap keluarga, terutama terhadap istri memang hal yang wajar dan harus dimiliki setiap keluarga agar rumah tangganya terbentuk dengan baik sesuai yang diharapkan. Akan tetapi, jika hal tersebut membawanya pada keburukan serta merugikan, maka Islam sangat melarangnya. Hal ini bisa kita ambil kasus tentang suami yang dayus. Sebenarnya siapakah suami dayus itu? Dan bagaimana pandangan Islam tentang suami yang dayus?
Dari Ammar bin Yasir berkata, ia mendengar dari Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam. Bersabda, Tiga yang tidak memasuki surga sampai bila-bila yaiatu Si DAYUS, si wanita yang menyerupai lelaki dan orang yang ketagih arak" lalu sahabat berkata : Wahai Rasulullah, kami telah faham arti orang yang ketagih arak, tetapi apakah itu Dayus? , berkata nabi : "yaitu orang yang tidak memperdulikan siapa yang masuk bertemu dengan ahlinya (istri dan anak-anaknya) (HR. At-Tabrani).
Dari hadis di atas, kita dapat memahami bahwa maksud lelaki DAYUS adalah seorang suami atau ayah yang langsung tidak ada perasaan risau dan ambil pusing dengan siapa istri dan anaknya bersama, bertemu, dan bergaul. Secara langsung, suami atau ayah membebaskan serta membiarkan ketika istri dan anaknya membuka aurat serta melakukan kemaksiatan.
Imam Az-Zahabi mengatakan Dayus adalah sesiapa yang menyangka (atau mendapat tanda) bahwa istrinya melakukan perkara keji ( seperti zina) maka ia mengabaikannya kerana CINTAnya kepada istrinya , maka tiada kebaikan untuknya dan tanda tiada kecemburuan ( yang diperlukan oleh Islam) dalam dirinya (Al-Kabair, 1/62)
Kecintaan suami terhadap istri tidak selamanya bisa membawa pada kebaikan apalagi kecintaannya dapat membutakannya. Demi kebahagiaan istrinya, ia membiarkan istrinya melakukan kemaksiatan. Hal ini tidak hanya merugikan istri, namun suami tersebut telah berbuat dosa besar dan termasuk suami yang DAYUS, sehingga ia jauh dari surga Allah Subhanallahu wa ta’ala. Sebagaimana sabda Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam., Tiga yang telah Allah haramkan baginya Syurga : orang yang ketagih arak, si penderhaka kepada ibu bapa dan Si Dayus yang membiarkan maksiat dilakukan oleh ahli keluarganya" (HR. Ahmad)
Selain contoh di atas, ada beberapa hal atau perbuatan yang dapat menyebabkan para suami atau ayah termasuk ke dalam golongan dayus, seperti: Membiarkan kecantikan dan bentuk tubuh istrinya dinikmati oleh lelaki lain sepanjang waktu jika istrinya bekerja atau di luar rumah. Membiarkan istri kerja dan keluar rumah tanpa menutup aurat dengan sempurna.
            Seorang suami bisa juga disebut dayus ketika ia membiarkan anak-anaknya melakukan perilaku yang tidak pantas serta membiarkan anak perempuannya memasuki akademi fantasia, sehingga ia memamerkan kecantikannya kepada jutaan manusia terutama kepada yang bukan mahramnya.
Akan tetapi, sebagai seorang istri pun kita harus bisa menjaga diri, sehingga perbuatan yang kita lakukan tidak membuat suami terjerumus ke dalam dosa yang amat besar. Pada zaman Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam. ada sebuah kisah yang menceritakan tentang seorang istri (Ummu Sulaim)yang menyembunyikan kematian anaknya dari suaminya (Abu Thalhah). Namun, setelah sang istri selesai melayani suaminya, ia pun langsung menceritakan tentang kematian anaknya. Kisah ini dapat mengetuk hati kita betapa besarnya rasa hormat Ummu Sulaim terhadap suaminya, Abu Thalhah dan Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam. pun membenarkan sikap Ummu Sulaim tersebut.
            Dayus merupakan perbuatan dosa yang paling besar. Hal ini tanpa seseorang sadari, ia dapat terjerumus ke dalam dosa tersebut. Sebagai seorang istri dan anak yang sayang terhadap suami atau ayah, maka kita harus menjaga agar suami atau ayah kita tidak termasuk ke dalam orang-orang yang dayus. Sebagai seorang istri pula semoga kita bisa menjaga serta menghormati suami seperti contoh kisah di atas.  







MARI TEBUS ANAK KITA!

             Alangkah bahagianya, jika kita diamanahkan Allah Subhanallahu wa ta’ala. berupa anak yang akan mendoakan dan membantu kita kelak. Untuk itu, kita harus mensyukurinya karena rasa syukur yang kita rasakan akan membuahkan hasil yang manis dan Allah Subhanallahu wa ta’ala. pun ridha kepada kita.
Salah satu bentuk syukur yang bisa kita lakukan ketika amanah (anak) itu lahir, yaitu diadakannya ‘Aqiqah. Sebagaimana yang telah kita ketahui, ‘Aqiqah merupakan kegiatan penyembelihan hewan ternak dan pelaksanaannya bisa dilakukan pada hari ketujuh, keempat belas dan dua puluh satu. Hal ini berdasarkan hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam., Hewan ‘Aqiqah itu disembelih pada hari ketujuh, keempatbelas, dan keduapuluhsatu (HR. Al-Baihaqiy).
Akan tetapi, bisa juga dilakukan pada hari-hari lainnya yang memungkinkan. ‘Aqiqah ini hukumnya sunah bagi orang tua anak tersebut. Namun, bagi seorang ayah yang mampu melaksanakan sunah ini, maka ia harus melaksanakannya, sehingga ia akan mendapatkan pahala dari Allah Subhanallahu wa ta’ala.
 Jumlah hewan yang disembelih pun berbeda, yakni jika ‘Aqiqah anak laki-laki, maka hewan yang disembelih sebanyak dua ekor kambing. Sedangkan ‘Aqiqah untuk anak perempuan hanya satu ekor kambing. Hal ini sebagaimana hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam., Untuk anak laki-laki dua ekor kambing yang berdekatan umurnya dan untuk anak perempuan satu ekor kambing (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi).
Sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas, bahwa tujuan dan hikmah melaksanakan ‘Aqiqah ini, di antaranya pertama sebagai rasa syukur kita kepada Allah Subhanallahu wa ta’ala. atas amanah (anak) yang telah diberikan kepada kita. Karena anak akan mendoakan dan membantu kita. Anak shaleh dan shalehah-lah yang dapat meneruskan perjuangan kita dalam menyebarkan ajaran Allah Subhanallahu wa ta’ala. yakni agama Islam. 
Kedua, menghidupkan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. dan meneladani Nabi Ibrahim as. tatkala Allah Subhanallahu wa ta’ala., menebus putra beliau, yakni Nabi Ismail as. Ketiga, ‘Aqiqah bertujuan untuk meningkatkan jiwa sosial, menyambungkan silaturahim, saling berbagi suka dan duka, terutama kepada tetangga yang ada di sekitar kita dan saudara sesama muslim.
Keempat, ‘Aqiqah ini bertujuan untuk menanamkan jiwa keagamaan pada anak tersebut dengan harapan kelak dia menjadi anak yang bisa membawa kebahagiaan dunia dan akhirat. ‘Aqiqah juga merupakan tebusan hutang anak untuk memberikan syafaat bagi kedua orang tuanya kelak pada hari perhitungan. Hal ini sebagaimana hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Setiap yang dilahirkan tergadai dengan aqiqahnya yang disembelih pada hari ketujuh dari kelahirannya dan dicukur rambutnya serta diberi nama (HR. Ahmad dan Ashabus Sunan).
Adapun cara pembagian dagingnya adalah orang tua anak yang melaksanakan ‘Aqiqah boleh memakan sebagian, dan memberikan atau mensedekahkan kepada orang lain. Akan tetapi, pembagian daging kambing ini alangkah baiknya diberikan setelah daging tersebut itu dimasak sampai matang. Setelah itu, kita undang tetangga-tetangga kita untuk memakannya bersama dengan memanjatkan doa terlebih dahulu kepada Allah Subhanallahu wa ta’ala. Sekaligus memberi nama dan mencukur rambut anak tersebut.
Namun, perlu kita ingat jika kita akan melakukan ‘Aqiqah, alangkah baiknya kita lakukan sendiri. Akan tetapi,  jika kita akan meminta tolong kepada orang lain, maka kita harus yakin bahwa orang tersebut dapat melakukannya sesuai dengan syariat Islam. Karena seperti yang telah kita ketahui, bahwa apa saja yang akan kita lakukan harus sesuai dengan tuntunan ajaran Islam., sehingga kita akan mendapatkan pahala dan berkah serta tidak menyimpang dari ajaran-Nya.   

Mudah-mudahan, dengan melaksanakan ‘Aqiqah ini, apa yang kita harapkan atas kelahiran amanah (anak) ini, dikabul oleh Allah Subhanallahu wa ta’ala. Aamiin 

Pernikahan, Permainankah?

Pernikahan adalah sebuah ikatan suci yang mana antara lelaki dan perempuan mengikrarkan sebuah janji suci, janji sehidup semati, janji saling mengasihi, janji saling mengingatkan pada jalan Allah, dan janji saling melindungi. Para lelaki yang sudah sah menjadi suaminya harus memiliki tanggung jawab yang sangat besar terhadap perempuan yang dinikahinya. Begitupun seorang perempuan yang sudah sah menjadi istrinya harus bisa menaati dan menghormati suaminya.
Namun, sekarang ini tidak sedikit seorang suami yang kurang peduli terhadap istrinya. Dia sama sekali tidak memperhatikan istri dan anak-anaknya, hingga akhirnya mereka merasa diterlantarkan. Kasus ini pun terjadi pada salah satu sahabat dekatku.
Pertama kali aku mendengarkan ceritanya, aku merasa geram, hati ini ikut merasakan sakit yang dideritanya. Tanda tanya besar muncul dalam benakku, bukannya dulu dia sangat menginginkan sahabatku? Tapi, kenapa sekarang menjadi seperti ini?
      Mungkin memang tidak sepantasnya sahabatku itu menceritakan aib rumah tangganya sendiri kepada siapapun termasuk padaku. Saat aku mendengarkan keluh kesahnya, aku sangat takut dan merasa sakit. Aku takut dia menjadi dosa karena telah menceritakan keadaan rumah tangganya, dan sesungguhnya dia pun menyadari hal itu namun ketidakkuatan dia yang akhirnya mau menceritakan semuanya. Aku juga sakit ketika mendengarkan keluh kesahnya. Ingin sekali aku datang pada suaminya, namun aku tidak mau mencampuri urusan mereka. Hingga akhirnya, aku hanya bisa memberi suport agar sahabatku bisa kuat menjalani ujian ini dan berharap semoga Allah membukakan hati suaminya hingga dia menyadari kesalahannya.. aamiin
          Ya... pernikahan itu bukan sebuah permainan. Ketika sudah terjadinya akad nikah, maka sebuah janji pun lahir dari keduanya dengan disaksikan beberapa saksi dan para tamu undangan, bahkan tak sedikit yang sengaja datang lebih awal untuk ikut menyaksikan akad nikah tersebut. Mereka semuanya ikut mendoakan dan berharap janji kedua pengantin itu terjaga hingga akhir hayatnya. 
          Jika di antara keduanya ada yang ingkar dan tidak bisa menjaga pernikahannya, maka dia tidak hanya menyakiti pasangannya, tapi dia juga telah mendzolimi orang-orang yang dulu ikut menyaksikan pernikahannya. Mengapa demikian? Dalam hadits telah disebutkan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam bersabda: “Apabila seorang di antara kamu diundang untuk menghadiri pesta pernikahan, maka hendaklah ia menghadirinya.” (HR. Muslim)
Ketika seseorang yang taat dan selalu menjalankan sunah-sunah Rasul yang salah satunya yaitu menghadiri undangan, maka dia akan mengikuti sunah tersebut. Dengan begitu waktu yang dia punya akan tersita karenanya. Namun, walaupun begitu dia tulus melakukannya dan berharap kedatangannya bisa menguatkan doa sang pengantin. Karena seperti yang pernah kita dengar, bahwa semakin banyak orang yang mendoakan, semakin cepat doa kita akan dikabul. Aamiin
          Akan tetapi, ketika suatu hari di antara pengantin itu ada yang ingkar, maka dia telah mendzolimi para tamu undangan yang dulu menghadiri pesta pernikahannya. Naudzubillah...
      Oleh karena itu, janganlah kita mempermainkan sebuah pernikahan karena pernikahan adalah ikatan yang suci, perjanjian antara kita dengan Allah, perjanjian antara kita dengan pasangan, perjanjian antara kita dengan orang tua, dan perjanjian dengan para tamu undangan yang rela menyempatkan waktunya untuk menghadiri pesta pernikahan kita.

          Mudah-mudahan kita termasuk ke dalam golongan orang yang selalu taat kepada perintah-perintah-Nya dan selalu menjadikan sunah-sunah Rasulullah shallallahu 'alaihi wassalam sebagai jalan hidup menuju ridha Allah Subhanallahu wa ta'ala. Aamiin  

Tanggung Jawab Ayah terhadap Pendidikan


Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, Setiap anak dilahirkan dalam kedaan diatas fitrah (Islam). Maka, kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak tersebut menjadi Yahudi, Nasrani dan Majusi (HR. Bukhari, dan Muslim)
Hadits di atas menjelaskan betapa pentingnya peranan orang tua terhadap anaknya. Ketika anak lahir ke dunia ini, orangtua lah yang  bertanggung jawab terhadap mereka. Dengan demikian, orangtua harus memperhatikan pendidikan anak-anaknya dari semenjak lahir sampai ia dewasa kelak. Islam pun telah mengajarkan kepada umatnya untuk memperhatikan pendidikan, karena ini merupakan perkara yang sangat penting, khususnya pendidikan dalam keluarga. Hal ini karena di lingkungan keluargalah pertama kalinya terbentuk bagaimana tingkah laku anak.
Pada zaman dahulu, para Nabi pun sangat memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Mereka khawatir anak-anaknya terjatuh pada perilaku yang menyimpang dari ajaran Allah Subhanallahu wa ta’ala., seperti menyekutukan Allah Subhanallahu wa ta’ala dan perilaku tercela lainnya. Hal ini tergambar dalam firman Allah Subhanallahu wa ta’ala, Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam. Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: Apa yang kamu sembah sepeninggalku? Mereka menjawab: Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya  (QS. al-Baqarah: 132-133).
Ayah merupakan seseorang yang sangat berperan dalam memperhatikan pendidikan anak-anaknya, begitupun dengan seorang ibu. Akan tetapi, ayah-lah yang harus bertanggung jawab karena ayah merupakan pemimpin keluarga yang kelak di akhirat akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.
Peranan seorang ayah dalam pendidikan keluarga, khususnya pendidikan anak merupakan salah satu kunci menuju ketentraman dan kebahagiaan hidup. Bukan hanya di dalam lingkungan keluarga, tetapi sampai pada lingkungan masyarakat sekitar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam pernah bersabda, Seorang ayah yang mendidik anak-anaknya adalah lebih baik daripada bersedekah sebesar 1 sa’ di jalan Allah (al-Hadis).
 Walaupun banyaknya sekolah dan pesantren yang dibangun untuk pendidikan, namun para orangtua khususnya ayah harus tetap memperhatikan pendidikan anak-anaknya. Hal ini karena seorang guru yang mengajar di sekolah atau ustad yang mengajar di pesantren hanya sebagai pendidik sementara. Apalagi anak-anak menghabiskan waktunya banyak di luar sekolah.
Pendidikan pertama yang harus kita ajarkan kepada anak-anak adalah pendidikan tauhid karena pendidikan tauhid merupakan jalan keselamatan dunia dan akhirat. Begitupun dengan pendidikan aqidah, yang mana kita harus mengajarkan anak tentang keberadaan Allah Subhanallahu wa ta’ala yang telah menciptakan seluruh makhluk di muka bumi ini.
Selain itu, pendidikan akhlak juga harus diperhatikan. Apalagi zaman yang semakin maju ini, kita harus bisa mengarahkan anak sejak dini agar dapat menyesuaikan diri, terutama di luar lingkungan keluarga, yakni lingkungan masyarakat. Mau tidak mau kita harus bersaing untuk menjadi yang terbaik, terutama dihadapan Allah Subhanallahu wa ta’ala.
Kemudian, kita juga harus mengajarkan ibadah dan tata caranya kepada anak sejak dini. Kita ajarkan mereka salat yang merupakan salah satu bentuk komunikasi dengan sang Khalik. Jika mereka telah bisa menjaga ketertiban salat di rumah, maka kita ajak mereka untuk melakukan salat berjamaah di masjid. Dengan melatih mereka sejak dini, Insya allah ketika kelak mereka dewasa, menjadi terbiasa.
            Oleh karena itu, sebagai seorang ayah yang peduli dan sayang terhadap istri dan anak-anaknya, marilah kita perhatikan pendidikan anak-anak kita dan mengajak mereka agar selalu berada di jalan Allah Subhanallahu wa ta’ala. Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, bahwa ayah atau suami-lah yang kelak akan diminta pertanggung jawaban dihadapan Allah Subhanallahu wa ta’ala.

Cara Menghormati Suami


Salah satu kunci keluarga sakinah adalah adanya saling  memahami dan menghormati antara suami istri dalam menjalankan kehidupan rumah tangganya. Seorang suami yang beriman, tentunya bisa memberikan dan mengarahkan istri serta anak-anaknya untuk terus berada di jalan Allah Subhanallahu wa ta’ala. Begitupun dengan istri yang shalehah, ia bisa menghormati dan memenuhi kewajibannya terhadap keluarganya, terutama terhadap suaminya.
Memiliki rasa hormat terhadap suami adalah perbuatan yang sangat mulia dan perbuatan ini akan membawanya kepada keridhaan Allah Subhanallahu wa ta’ala. Syariat Islam telah menetapkan seorang suami memiliki hak yang sangat besar terhadap istrinya, sampai-sampai bila diperkenankan oleh Allah Subhanallahu wa ta’ala, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam akan memerintahkan seorang istri sujud kepada suaminya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku perintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya. Dan tidaklah seorang istri dapat menunaikan seluruh hak Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadapnya hingga ia menunaikan seluruh hak suaminya. Sampai-sampai jika suaminya meminta dirinya (mengajaknya jima’) sementara ia sedang berada di atas pelana (yang dipasang di atas unta) maka ia harus memberikannya (tidak boleh menolak) (HR. Ahmad).
Sebagai seorang istri yang shalehah, kita harus mencari keselamatan dari adzab Allah Subhanallahu wa ta’ala melalui suami, yakni dengan cara menghormati serta menunaikan hak-hak suami. Hal ini karena suami adalah jembatan untuk meraih kenikmatan surga atau bisa juga sebaliknya malah membawa dirinya ke jurang neraka.
Ketika kita menghormati dan melaksanakan apa yang suami perintahkan selama apa yang diperintahkan olehnya tidak menyimpang, maka kita harus benar-benar menurutinya serta semata mengharap ridha Allah Subhanallahu wa ta’ala. Akan tetapi, bagaimana caranya kita menghormati suami? Hal ini bisa kita ambil contoh kasus, yakni ketika dalam waktu yang bersamaan orangtua dan suami menyuruh kita, apakah kita harus mendahulukan perintah orangtua yang telah melahirkan kita atau perintah suami?
Perlu kita perhatikan, orangtua adalah seseorang yang telah melahirkan dan membesarkan kita. Akan tetapi, ketika kita sudah berumah tangga, maka hal yang harus pertama kita lakukan adalah menaati apa yang telah diperintahkan suami, karena kita sudah menjadi tanggung jawab suami. Dengan demikian, jika ada kasus seperti contoh di atas, ketika dalam waktu bersamaan orangtua dan suami menyuruh kita, maka kita harus mendahulukan kepentingan suami. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanallahu wa ta’ala, …maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)… (QS. an-Nisaa’: 34)
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah pun mengatakan dalam Majmu Fatawa(32/261), “Seorang perempuan jika telah menikah maka suami lebih berhak terhadap dirinya dibandingkan kedua orang tuanya dan mentaati suami itu lebih wajib dari pada taat orang tua”.
Ketika kita memilih mendahulukan perintah suami daripada perintah orangtua, maka itulah cara kita untuk menghormati suami. Selain itu, masih banyak juga cara kita dalam menghormati suami, yakni ketika kita akan melakukan ibadah sunat, seperti puasa, maka kita harus meminta izin dahulu terhadapnya. Hal ini berdasarkan hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, Tidak diperbolehkan bagi seorang perempuan berpuasa di saat suaminya di rumah, kecuali dengan seizinnnya (HR. Bukhari).  
Menghormati serta mendahulukan kepentingan dan kemauan suami lebih besar pahala yang akan kita dapatkan dibandingkan ketika mengerjakan ibadah sunat lainnya. Untuk itu, marilah kita senantiasa terus meraih ridha suami serta ridha Allah Subhanallahu wa ta’ala untuk menuju surga-Nya, karena istri-istri yang menghormati suaminya adalah istri-istri penduduk surganya Allah Subhanallahu wa ta’ala. Aamiin..   











Puasa Keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS. al-Baqarah: 183).
Alhamdulillah, dengan nikmat dan izin Allah Subhanallahu wa ta’ala kita diberi kesempatan menyambut kembali bulan suci Ramadan, sehingga kita bisa menjalankan ibadah puasa yang Allah Subhanallahu wa ta’ala perintahkan, seperti yang telah dijelaskan ayat al-Qur’an di atas.
Di lingkungan keluarga, tentunya kita mempunyai cara tersendiri untuk menjadikan Ramadhan, bulan yang penuh berkah itu sebagai satu bulan yang sangat indah dan berharga. Akan tetapi, alangkah baiknya, jika kita bisa meneladani dan mencontoh bagaimana puasa keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam., sehingga puasa yang kita lakukan penuh dengan berkah dan diterima Allah Subhanallahu wa ta’ala.
Lantas, bagaimana puasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dan keluarganya? Apakah selama ini kita telah meneladani beliau dalam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan? 
Para pembaca yang budiman, perlu kita ketahui, bahwa pada zaman dahulu, ketika bulan Ramadhan tiba, salah satu kegiatan yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam beserta keluarganya ialah membersihkan serta menyucikan diri, yakni dengan cara meminta maaf dan bersilaturahim kepada para kerabatnya. Hal ini dilakukan agar dalam melakukan puasa, keadaan kita bersih dari hadas maupun bersih dari hal-hal yang dapat memakruhkan puasa kita nanti, sehingga puasa yang kita kerjakan mendapat pahala serta tidak menjadi sia-sia. Sama halnya ketika kita akan melakukan salat, sebelum mengerjakan salat, kita mengambil air wudhu atau mandi besar dahulu agar diri kita bersih dari hadas kecil maupun hadas besar.     
Kemudian, sebagaimana yang sering kita rasakan, bahwa setiap menjelang bulan Ramadhan, harga-harga barang pokok/sembako menjadi naik, bahkan hampir dua kali lipat dari harga biasanya. Namun, sebagian dari kita selalu memaksakan membeli barang-barang tersebut dengan alasan untuk kebutuhan puasa nanti. Jika kita melihat yang demikian itu,  Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam sendiri telah mengajarkan kesederhanaan, seperti ketika puasa, beliau hanya berbuka dengan memakan tiga buah kurma.
Para pembaca yang budiman, dalam mengerjakan puasa, seharusnya kita mengharapkan nilai ibadah yang tinggi bukan menyajikan makanan yang banyak serta beragam jenisnya yang akhirnya akan merusak ibadah puasa kita ini. Kita boleh saja menata dan menyiapkan makanan untuk sahur dan juga berbuka, namun dengan catatan tidak berlebih-lebihan dan juga menyiapkan makanan yang bergizi, sehingga di samping kita bisa meneladani kesedarhanaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, kita pun bisa mengerjakan puasa dengan lancar.
Ketika berbuka tiba, hendaknya kita pun mencontoh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dengan menyegerakan berbuka dan juga juga dengan makanan yang manis-manis dahulu seperti kurma yang telah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam contohkan. Hal ini berdasarkan hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dari Anas bin Malik, ia berkata, Adalah Rasulullah berbuka dengan Rutab (kurma yang lembek) sebelum shalat, jika tidak terdapat Rutab, maka beliau berbuka dengan Tamr (kurma kering), maka jika tidak ada kurma kering beliau meneguk air (HR. Ahmad dan Abu Dawud).
Berbuka dengan yang manis-manis akan membuat perut kita kenyang, sehingga kita bisa melakukan ibadah lainnya dengan baik tanpa merasakan perut lapar setelah berpuasa seharian. Akan tetapi, kita pun ingat, jangan sampai perut kita terlalu kenyang karena justru akan mengakibatkan rasa ngantuk, sehingga kita tidak bisa melaksanakan ibadah lainnya, seperti salat magrib dan salat isya serta salat terawih yang biasa dikerjakan sesudah salat isya di bulan Ramadhan. 
            Para pembaca yang budiman, adapun keutamaan puasa adalah seperti dalam suatu hadis dari Abu Hurairah ra., bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam telah bersabda, Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh iman dan ihtisab (mengharap wajah Allah) maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR. Bukhari dan Muslim). Perlu kita ketahui bahwa makna dari "penuh iman dan Ihtisab", yakni membenarkan wajibnya puasa, mengharap pahalanya, hatinya senang dalam mengamalkan, tidak membencinya, tidak merasa berat dalam mengamalkannya.
            Dengan demikian, marilah kita senantiasa meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam apa yang beliau lakukan ketika bulan Ramadhan tiba serta mengerjakan puasa dengan penuh iman dan ihtisab. Mudah-mudahan puasa kita mendapat berkah dan diterima Allah Subhanallahu wa ta’ala. Aamiin…

Keikhlasan Seorang Istri

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir (QS. Ar-Ruum: 21).
Ayat di atas menjelaskan tentang jalinan ketentraman, rasa kasih dan rasa sayang sebagai suatu ketenangan yang dibutuhkan oleh suami istri. Setiap orang yang sudah menikah, tentu sangat menginginkan kebahagiaan dalam kehidupan rumah tangga mereka serta ketenangan, ketentraman, kenyamanan dan adanya kasih sayang.
Istri yang shalehah adalah istri yang memiliki keikhlasan dalam berkhidmat dan melayani suaminya. Alangkah bahagianya seorang suami yang memiliki istri shalehah yang patuh, taat dan ikhlas dalam melayaninya. Ketika suaminya tidak ada di rumah, ia berusaha menjaga kehormatannya. Dan ketika suaminya pulang kerja, ia menyambutnya dengan senyuman, melepaskan sepatunya serta memberi segelas minuman untuk menghilangkan rasa lelah yang dirasakan suaminya.
Keikhlasan seorang istri akan membuahkan hasil yang baik terhadapnya dan juga keluarganya. Selain ia bisa memiliki keluarga yang tenang, tentram dan bahagia, ia pun akan mendapat pahala serta ganjaran yang telah Allah Subhanallahu wa ta’ala janjikan.
Dalam hal ini, kita bisa ambil contoh dari kisah seorang wanita shalehah yang telah dijanjikan Allah Subhanallahu wa ta’ala sebagai wanita pertama yang masuk surga.
Pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, beliau pernah ditanya oleh Siti Fatimah tentang siapa perempuan pertama yang akan masuk surga. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam menjawab bahwa Muti’ah lah perempuan pertama masuk surga. Alangkah terkejutnya Siti Fatimah, ternyata bukan dirinyalah wanita pertama yang masuk surga, padahal beliau adalah putri kesayangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. 
Rasa penasaran pun timbul, akhirnya setelah Siti Fatimah menemukan alamat perempuan tersebut, beliau meminta izin kepada suaminya Ali bin Abi Thalib untuk mengunjungi Muti’ah. Setelah mendapat izin, beliau pun langsung mengunjungi Muti’ah. Namun sayang, Siti Fatimah tidak diperbolehkan masuk karena ia membawa Hasan, anaknya. Keesokan harinya, Siti Fatimah mengunjunginya lagi, dengan membawa Hasan dan Husain. Akan tetapi, beliau masih saja belum diperkenankan untuk memasuki rumah Muti’ah karena Muti’ah hanya meminta izin kepada suaminya hanya Hasan yang boleh masuk. Akhirnya Siti Fatimah pun pulang dengan rasa kecewa.
Kemudian keesokan harinya, Siti Fatimah mengunjunginya lagi. Dengan izin suaminya, Muti’ah pun mempersilahkan Siti Fatimah dan kedua anaknya memasuki rumahnya. Hati Siti Fatimah begitu senang. Setelah diselidiki, ternyata Muti’ah sama saja dengan istri-istri lainnya, ia shalat dan selalu berdzikir serta bisa menjaga kehormatan dikala suaminya sedang tidak ada di rumah.
Namun, ternyata yang membuatnya istimewa adalah ketika Siti Fatimah masih bertamu, Muti’ah meminta izin untuk menyiapkan makanan kepada suaminya di ladang, sehingga ia tidak bisa menemani Siti Fatimah duduk tenang. Ketika masakannya sudah siap, ia juga menyiapkan sebuah cambuk. Siti Fatimah penasaran dan bertanya tentang cambuk tersebut. Muti’ah pun menjawab, ternyata cambuk tersebut dipakai ketika makanan yang dimasaknya kurang berkenan dihati suaminya, sehingga dengan keikhlasannya, Muti’ah bersedia dicambuk oleh suaminya. Alangkah terkejutnya Siti Fatimah dan rasa penasaran beliau pun sudah terjawab tentang rahasia Muti’ah mengapa ia perempuan pertama yang akan masuk surga.
Kisah di atas tidak hanya membuat kita merasa terkejut, Siti Fatimah putri kesayangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam pun merasa terkejut. Subhanallah… betapa taat dan patuhnya seorang Muti’ah terhadap suaminya. Ia adalah wanita shalehah yang penuh keikhlasan dalam melayani suaminya.
Mudah-mudahan kita bisa menjadi seorang istri shalehah yang senantiasa bersikap ikhlas serta mendapatkan suami yang shaleh pula yang bisa membawa kita ke dalam surga-Nya.  Perlu kita ketahui, bahwa istri yang shalehah dan selalu melayani suaminya dengan penuh keikhlasan, tatkala ia meninggal dunia dan dishalatkan oleh suaminya yang shaleh, maka ia akan terhindar dari siksa serta azab kubur. Aamiin..