Berita tentang cutinya Erik pun diketahui
teman-teman dan mereka langsung memilih Kosma lagi dan Agil lah yang terpilih
menjadi Kosma. Namun belum juga selesai semester, Agil mengundurkan diri.
Akhirnya Mika lah yang terpilih.
“Waduh.. gara-gara Erik aku jadi
dipilih, ah Erik dimana sih kamu? Padahal kalo kamu ada pasti nggak akan kaya
gini jadinya”. Ujar Mika dalam hati
“Hadeuhh Mika, selamat ya Ka?” ujar
Tina
“Ah apaan sih, malahan aku nggak
mau, tapi tau ah bête” kata Mika sedikit kesal
“Ikh dasar, harusnya kamu senang
karena teman-teman mempercayai kamu”
“Mmm… tau ah,”
“Asiikk.. akhirnya Mika jadi kosma”
ledek Agil
“Ah kamu Gil, lagian kenapa kamu
ngundurin diri, bête deh?”
“Haha,, sorry ya Mika, tapi aku
setuju kalo kamu jadi kosma, sip lah” ujar Agil sambil mengacungkan jempolnya
“Ah kamu, bête” ujar Mika meninggalkan
Agil
“Eh ka, kamu mau kemana?” Tanya Agil
“Tau ah, kemana ajah” jawabku ketus
“Haha.. Mika marah… “
Mika tak menghiraukan Agil, dia
berlalu meninggalkan Agil. Mika pergi menuju kantin.
Diperjalanan dekat kantin Mika ketemu Dikdik.
“Mika, tau nggak Erik sakit DBD?”
kata Dikdik
“Hah??? Kata siapa? Ko kamu kamu
bisa tau dia sakit?” Tanya Mika kaget
“Iya lah orang aku suka ke kosan
dia”
“O.. gitu, terus gimana? Dia dirawat
dimana?”
“Nggak kok sekarang dia udah agak
sehatan, aku juga memang taunya pas dia dah mulai sehat sih”
“O… aku pikir dia nggak ada di sini”
“Dia di sini kok, kan dia kerja di
sini”
“O iya-iya”
Sebenarnya Mika pengen menjenguknya,
tapi dia malu dan dia ngerasa nggak enak aja cewe datang ke kosan cowo sendiri.
“Hi, ko bengong? Oya katanya kamu
juga udah kerja ya?” Tanya Dikdik
Mika pun kaget karena dari
tadi dia sempat bengong gara-gara mikirin Erik.
“Eh iya Alhamdulillah aku udah kerja, oiya
terus sekarang dia sama siapa di kosannya?”
“Mmm, tenang..dia
bareng teman-temannya dan malahan ada saudaranya juga”
“O.. syukur atu, oya
kalo nanti ke kosannya, tolong nitip salam ya, bilang aja kata aku cepat
sembuh” ujar Mika sedikit malu
“Okeh deh bu kosma” ledek Dikdik
“Beugh,, tadi Agil terus-terusan
ledek aku” ujar Mika sedikit cemberut
“Haha.. ya nggak apa-apa atu orang
kamu pantes jadi kosma ko, hhe”
“mmmmm”
***
Mika, Tina dan Wiwit asyik bercanda
di kosan Wiwit karena siang itu dosen matakuliah terakhir nggak masuk.
“Eh Wit, gimana hubungannya dengan
si dia?” Tanya Tina sambil memandang Mika.
Wiwit pun bengong nggak ngerti maksud Tina,
begitupun Mika.
“Maksudnya dia siapa?” Tanya Wiwit
“Ya Erik lah, ehm”
Mika kaget pas dengar nama Erik.
Wiwit tersenyum.
“O.. hhe emang kenapa gitu?”
“Kenapa nggak jadian aja?” ledek
Tina
Hati Mika semakin nggak karuan.
Dalam hati dia bertanya, kenapa harus membahas tentang Erik? tapi Tina emang
nggak salah juga karena Tina dan Wiwit nggak tau isi hati Mika.
“Ah dasar, ya nggak lah lagian aku
sama Erik cuma dekat aja”
“O,, hahaha kirain bakal jadian. Tapi dia
sekarang malah cuti ya. Sedih deh,,hhe” ujar Tina
Ponsel Mika berdering ternyata itu
dari Tara. Akhirnya Tara menghubunginya lagi. Mika pun menceritakan pada Tina
dan Wiwit. Tina sedikit kesal karena Tara seperti mempermainkan Mika karena
sikap Tara yang seenaknya datang dan pergi. Tapi, dia tidak bisa berbuat
apa-apa karena mungkin Mika menerima sikap Tara.
“Wit, Na, aku kayanya pulang dulu
ya” pamit Mika
“O.. ya udah kalo gitu
hati-hati di jalannya ya” ujar Wiwit.
Mika mengangguk dan langsung
meninggalkan kedua sahabatnya itu.
Mika berjalan menuju tempat yang
dijanjikan dia dan Tara. Sesampainya di tempat tersebut, Mika melihat Tara yang
sudah menunggunya.
***
Mika
berjalan menuju angkot. Kali ini dia tidak ada jadwal kuliah, namun dia masih
harus bolak-balik ke kampus. Diperjalanan, ponselnya pun berdering. Ternyata
itu telpon dari tetangga Nisa yang mengabarkan kalo Nisa meninggal dunia.
Setelah mendengar kabar itu, Mika sangat shok dan belum percaya.
Sampai
akhirnya dia pun bergegas menuju rumah Nisa, dan ternyata kabar itu benar. Mika
benar-benar sedih dan air matanya pun keluar saat melihat sahabatnya Nisa
terbaring sudah tak bernyawa. Mika pun menyesal karena dia belum sempat bertemu
sahabatnya itu. Apalagi semenjak dia bekerja, Mika sudah jarang ke rumah Nisa
begitu pun dengan Nisa yang sudah bekerja juga.
Selama
ini Mika memang sudah mengetahui penyakit yang diderita Nisa karena dulu Nisa
pernah menemuinya di kampus. Nisa menceritakan keadaannya. Namun, Mika nggak
menyangka sahabatnya akan pergi begitu cepat.
Mika pun
langsung mengabarkan teman-teman SMA nya dulu, termasuk Tara karena tempat
tinggal Tara tak jauh dari rumah Nisa. Mika teringat sosok Nisa yang begitu
peduli kepadanya. Setiap kali Mika ada masalah, Nisa selalu ada. Apalagi
masalah yang berhubungan dengan Tara. Bagi Mika Nisa bukan hanya sekedar
sahabat, namun Nisa sudah dianggap sebagai saudara sendiri.
***
Semenjak
kepergian Nisa, hati Mika seakan kosong namun Tara, Wiwit dan Tina selalu menghiburnya.
Mika pun berjanji bahwa dia tidak akan sedih lagi karena Mika yakin kalo
sahabatnya itu sudah tenang di alam sana.
Semakin
hari Mika dan Tara semakin akrab. Awalnya Wiwit dan Tina kurang menyukainya
karena mereka takut Tara akan menyakiti Mika lagi. Tapi melihat Mika bahagia,
akhirnya mereka pun menyerah dan hanya bisa berharap bahwa kebahagiaan Mika
tidak hanya cukup di sini.
“Ka, aku
berharap kamu tetap bahagia seperti sekarang ini” ujar Wiwit
“Iya Wit,
aku juga berharap seperti itu, doanya ya”
“Kita
selalu berdoa yang terbaik ko buat kamu Ka” tambah Tina
“Oya udah
denger kabar lagi belum?” Tanya Wiwit
“Kabar
apaan Wit?” jelas Mika penasaran
“Itu
katanya sebentar lagi Erik mau masuk kuliah lagi”
Deg, hati
Mika berdebar kencang. Namun, dia tetep merasa kalo dia sekarang bahagia
bersama Tara.
“Hah, ada
yang bahagia ni” ledek Tina sambil melirik Wiwit
Wiwit pun
spontan memukul Tina pake bantal. Akhirnya mereka pun bercanda dan menggoda
Wiwit. Tak terasa jam pun menunjukkan pukul 12.00 malam. Mereka pun terlelap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar