Selamat Datang dan Selamat Membaca

You Raise Me Up (bagian 8)

Berita tentang cutinya Erik pun diketahui teman-teman dan mereka langsung memilih Kosma lagi dan Agil lah yang terpilih menjadi Kosma. Namun belum juga selesai semester, Agil mengundurkan diri. Akhirnya Mika lah yang terpilih.   
“Waduh.. gara-gara Erik aku jadi dipilih, ah Erik dimana sih kamu? Padahal kalo kamu ada pasti nggak akan kaya gini jadinya”. Ujar Mika dalam hati
“Hadeuhh Mika, selamat ya Ka?” ujar Tina
“Ah apaan sih, malahan aku nggak mau, tapi tau ah bête” kata Mika sedikit kesal
“Ikh dasar, harusnya kamu senang karena teman-teman mempercayai kamu”
“Mmm… tau ah,”
“Asiikk.. akhirnya Mika jadi kosma” ledek Agil
“Ah kamu Gil, lagian kenapa kamu ngundurin diri, bête deh?”
“Haha,, sorry ya Mika, tapi aku setuju kalo kamu jadi kosma, sip lah” ujar Agil sambil mengacungkan jempolnya
“Ah kamu, bête” ujar Mika meninggalkan Agil
“Eh ka, kamu mau kemana?” Tanya Agil
“Tau ah, kemana ajah” jawabku ketus
“Haha.. Mika marah… “
Mika tak menghiraukan Agil, dia berlalu meninggalkan Agil. Mika pergi menuju kantin.
Diperjalanan dekat kantin Mika ketemu Dikdik.
“Mika, tau nggak Erik sakit DBD?” kata Dikdik
“Hah??? Kata siapa? Ko kamu kamu bisa tau dia sakit?” Tanya Mika kaget
“Iya lah orang aku suka ke kosan dia”
“O.. gitu, terus gimana? Dia dirawat dimana?”
“Nggak kok sekarang dia udah agak sehatan, aku juga memang taunya pas dia dah mulai sehat sih”
“O… aku pikir dia nggak ada di sini”
“Dia di sini kok, kan dia kerja di sini”
“O iya-iya”
Sebenarnya Mika pengen menjenguknya, tapi dia malu dan dia ngerasa nggak enak aja cewe datang ke kosan cowo sendiri.
“Hi, ko bengong? Oya katanya kamu juga udah kerja ya?” Tanya Dikdik
Mika pun kaget karena dari tadi dia sempat bengong gara-gara mikirin Erik.
 “Eh iya Alhamdulillah aku udah kerja, oiya terus sekarang dia sama siapa di kosannya?”
“Mmm, tenang..dia bareng teman-temannya dan malahan ada saudaranya juga”
“O.. syukur atu, oya kalo nanti ke kosannya, tolong nitip salam ya, bilang aja kata aku cepat sembuh” ujar Mika sedikit malu
“Okeh deh bu kosma” ledek Dikdik
“Beugh,, tadi Agil terus-terusan ledek aku” ujar Mika sedikit cemberut
“Haha.. ya nggak apa-apa atu orang kamu pantes jadi kosma ko, hhe”
“mmmmm”
                                                                 ***
Mika, Tina dan Wiwit asyik bercanda di kosan Wiwit karena siang itu dosen matakuliah terakhir nggak masuk.
“Eh Wit, gimana hubungannya dengan si dia?” Tanya Tina sambil memandang Mika.
 Wiwit pun bengong nggak ngerti maksud Tina, begitupun Mika.
“Maksudnya dia siapa?” Tanya Wiwit
“Ya Erik lah, ehm”
Mika kaget pas dengar nama Erik. Wiwit tersenyum.
“O.. hhe emang kenapa gitu?”
“Kenapa nggak jadian aja?” ledek Tina
Hati Mika semakin nggak karuan. Dalam hati dia bertanya, kenapa harus membahas tentang Erik? tapi Tina emang nggak salah juga karena Tina dan Wiwit nggak tau isi hati Mika.
“Ah dasar, ya nggak lah lagian aku sama Erik cuma dekat aja”
 “O,, hahaha kirain bakal jadian. Tapi dia sekarang malah cuti ya. Sedih deh,,hhe” ujar Tina
Ponsel Mika berdering ternyata itu dari Tara. Akhirnya Tara menghubunginya lagi. Mika pun menceritakan pada Tina dan Wiwit. Tina sedikit kesal karena Tara seperti mempermainkan Mika karena sikap Tara yang seenaknya datang dan pergi. Tapi, dia tidak bisa berbuat apa-apa karena mungkin Mika menerima sikap Tara. 
“Wit, Na, aku kayanya pulang dulu ya” pamit Mika
“O.. ya udah kalo gitu hati-hati di jalannya ya” ujar Wiwit.
Mika mengangguk dan langsung meninggalkan kedua sahabatnya itu.

Mika berjalan menuju tempat yang dijanjikan dia dan Tara. Sesampainya di tempat tersebut, Mika melihat Tara yang sudah menunggunya. 
*** 
Mika berjalan menuju angkot. Kali ini dia tidak ada jadwal kuliah, namun dia masih harus bolak-balik ke kampus. Diperjalanan, ponselnya pun berdering. Ternyata itu telpon dari tetangga Nisa yang mengabarkan kalo Nisa meninggal dunia. Setelah mendengar kabar itu, Mika sangat shok dan belum percaya.
Sampai akhirnya dia pun bergegas menuju rumah Nisa, dan ternyata kabar itu benar. Mika benar-benar sedih dan air matanya pun keluar saat melihat sahabatnya Nisa terbaring sudah tak bernyawa. Mika pun menyesal karena dia belum sempat bertemu sahabatnya itu. Apalagi semenjak dia bekerja, Mika sudah jarang ke rumah Nisa begitu pun dengan Nisa yang sudah bekerja juga.
Selama ini Mika memang sudah mengetahui penyakit yang diderita Nisa karena dulu Nisa pernah menemuinya di kampus. Nisa menceritakan keadaannya. Namun, Mika nggak menyangka sahabatnya akan pergi begitu cepat.
Mika pun langsung mengabarkan teman-teman SMA nya dulu, termasuk Tara karena tempat tinggal Tara tak jauh dari rumah Nisa. Mika teringat sosok Nisa yang begitu peduli kepadanya. Setiap kali Mika ada masalah, Nisa selalu ada. Apalagi masalah yang berhubungan dengan Tara. Bagi Mika Nisa bukan hanya sekedar sahabat, namun Nisa sudah dianggap sebagai saudara sendiri.
***
Semenjak kepergian Nisa, hati Mika seakan kosong namun Tara, Wiwit dan Tina selalu menghiburnya. Mika pun berjanji bahwa dia tidak akan sedih lagi karena Mika yakin kalo sahabatnya itu sudah tenang di alam sana.
Semakin hari Mika dan Tara semakin akrab. Awalnya Wiwit dan Tina kurang menyukainya karena mereka takut Tara akan menyakiti Mika lagi. Tapi melihat Mika bahagia, akhirnya mereka pun menyerah dan hanya bisa berharap bahwa kebahagiaan Mika tidak hanya cukup di sini.
“Ka, aku berharap kamu tetap bahagia seperti sekarang ini” ujar Wiwit
“Iya Wit, aku juga berharap seperti itu, doanya ya”
“Kita selalu berdoa yang terbaik ko buat kamu Ka” tambah Tina
“Oya udah denger kabar lagi belum?” Tanya Wiwit
“Kabar apaan Wit?” jelas Mika penasaran
“Itu katanya sebentar lagi Erik mau masuk kuliah lagi”
Deg, hati Mika berdebar kencang. Namun, dia tetep merasa kalo dia sekarang bahagia bersama Tara.
“Hah, ada yang bahagia ni” ledek Tina sambil melirik Wiwit
Wiwit pun spontan memukul Tina pake bantal. Akhirnya mereka pun bercanda dan menggoda Wiwit. Tak terasa jam pun menunjukkan pukul 12.00 malam. Mereka pun terlelap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar