Selamat Datang dan Selamat Membaca

You Raise Me Up

Mika adalah seorang yang periang, mudah bergaul dan dekat dengan siapa saja. Teman-temannya tidak hanya dalam satu kelas, tetapi dia pun mempunyai banyak teman dari berbagai jurusan yang ada di Universitas tempat dia kuliah. Dari SMA Mika mempunyai pacar namanya Tara. Dia adalah kakak kelas Mika sendiri.
Awal masuk kuliah, keadaan hubungan Mika dan Tara sudah sedikit berbeda. Banyak kabar yang menyatakan bahwa Tara selingkuh. Akan tetapi, kabar itu tidak membuat Mika jera dan langsung percaya. Mika masih tetap setia dan sering memberi kabar kepada Tara, walaupun pada kenyataannya sikap Tara memang berubah. Dia tidak lagi seperti dulu yang selalu ada untuk Mika.
Setelah memasuki pertengahan semester, Mika semakin mendengar kabar yang tidak enak tentang Tara. Setiap hari hatinya selalu panas dengan kabar tersebut. Namun, dia berusaha untuk menutup telinganya. Nisa sahabatnya dari SMA dan teman-teman kuliahnya bisa membuat Mika lupa tentang masalah yang belum jelas itu, terutama Erik. Erik bisa mengalihkan keresahan Mika dengan tingkahnya yang lucu.
Awal masuk kuliah, Mika memang menyukai Erik. Akan tetapi Mika menyadari bahwa dia sudah mempunyai cowok. Dia tidak mau merusak hubungannya dengan Tara hanya karena cowo lain, meskipun dia menyadari bahwa hubungannya dengan Tara sedang memburuk.
Akhirnya, Mika memutuskan untuk menyembunyikan perasaannya terhadap Erik dan berusaha percaya bahwa Tara tidak seperti yang orang lain katakan. Semenjak itu, sesibuk apapun dia di kampus, dia selalu memberikan kabar dan berusaha meluangkan waktunya untuk makan siang bersama walaupun kadang Tara menolaknya dengan alasan sibuk.
Semakin lama keadaan hubungan mereka sangat memburuk. Tara sudah jarang balas sms Mika. Untuk bertemu pun semakin sulit. Nisa sangat prihatin atas masalah yang menimpa Mika. Nisa pun selalu berusaha menghiburnya dan mencoba meyakinkan bahwa apapun yang terjadi dia akan selalu ada untuk Mika.
Suatu hari di rumah Nisa, terdengar candaan Mika dan Nisa. Sepulang dari kampus, Mika langsung main ke rumah sahabatnya itu. Seperti biasa, mereka saling bercanda, mendengarkan musik sambil bernyanyi-nyanyi, sehingga Mika pun merasa bahwa keadaannya baik-baik saja tanpa ada masalah.
Terdengar bunyi dari ponsel Mika. Ternyata Tara menghubunginya dan mengajaknya bertemu.
“Nah, dari siapa tuh?” ledek Nisa.
Muka Mika memerah, hatinya pun merasa senang karena tidak menyangka Tara yang selama ini susah dihubungi tiba-tiba mengajaknya bertemu.
“Dari kak Tara ya Ka?” Tanya Nisa.
Mika pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum-senyum.
“Dia ngajak ketemuan Sa” kata Mika.
“Wah asiikk, akhirnya” ledek Nisa.
Mika langsung bersiap-siap dan pamit pada Nisa. Di perjalanan muka Mika nampak berseri-seri tak sabar ingin segera bertemu dengan Tara.
Akhirnya Mika pun sampai ke tempat yang mereka janjikan. Ternyata Tara sudah menunggu di sana. Mika pun langsung menghampirinya.
 “Maaf kak lama” ujar Mika menyesal.
“Gak apa-apa kok” jawab Tara dengan muka yang sedikit cemberut seperti ada yang dia sembunyikan.
Mika duduk di sampingnya.
“Gimana kabarnya kak?” Tanya Mika.
“Baik” jawab Tara dengan singkat.
Mereka pun terdiam tanpa kata. Tanpa sadar Mika menggulung-gulung tali tasnya, dalam hati dia berharap Tara menanyakan kabarnya. Akan tetapi, harapan Mika lenyap, dan sudah hampir lima belas menit mereka saling diam.
Mengisi keheningan, Mika pun angkat bicara dengan sedikit gugup.
“Kak kok diam? Apa ada masalah?” Tanya Mika sedikit pelan.
“Gak kenapa-napa?” jawab Tara dengan sedikit ketus.
“Kak Tara lagi gak enak badan? Atau kesal gara-gara aku telat datang?” Tanya Mika lagi. “Saya bilang, saya nggak kenapa-napa” jawab Tara dengan nada sedikit keras.
Tersentak Mika pun kaget. Padahal, sebelumnya dia membayangkan bahwa pertemuannya dengan Tara berharap membuat hubungannya membaik. Akan tetapi, dugaan Mika salah. Melihat Tara seperti itu, hatinya merasa sakit dan ingin menangis, namun dia berusaha menahan air matanya yang dari tadi telah membendung.
“Aku jadi gak enak. Kak Tara diam aja. Padahal kak Tara sendiri yang ngajak ketemuan” ujar Mika lagi.
 “Kamu selalu saja kaya gitu, kamu gak pernah ngertiin saya. Please, coba ngertiin saya” ujar Tara dengan nada tinggi.
“Kak, gimana aku tahu kak Tara kenapa, dari tadi kak Tara hanya diam, tadi kan aku sudah nanya, kak Tara kenapa? Tapi kak Tara jawab gak kenapa-napa. Aku gak bisa ngerti kalo kak Tara gak cerita, seenggaknya…”.
Belum selesai bicara Tara pun memotongnya,
“Udahlah! saya lagi pusing, kalau mau pulang, kamu pulang aja”.
Mika semakin kaget dan tidak mengerti dengan sikap Tara. Hampir saja dia meneteskan air matanya, tapi untungnya bisa dia tahan. Mika pun pergi dengan langkah yang tersendat, berharap Tara meraihnya. Tapi semua hanya harapan kosong. Tara tetap terdiam dan menundukkan kepalanya.         
Mika kembali lagi ke rumah Nisa. Muka Mika sangat merah. Di sepanjang perjalanan, dia menahan air matanya yang ingin segera keluar.
 “Cie yang habis ketemuan” goda Nisa.
 Akan tetapi, Mika hanya diam dan langsung memasuki rumah Nisa dan bergegas menuju kamar Nisa. Melihat sikap Mika, Nisa merasa heran dan mengikutinya di belakang.
 “Mika, kamu kenapa?” Tanya Nisa penasaran.
 Mika masih terdiam. Nisa semakin heran. Tak tahan dengan air matanya yang dari tadi ditahan, akhirnya Mika pun menangis.
“Ya udah kalo kamu mau nangis, kamu nangis saja dulu” ujar Nisa sambil mengusap-ngusap pundak Mika.
Mika pun menghapus air matanya yang terus mengalir. Sementara Nisa segera mengambilkannya minum.
 “Diminum dulu Ka” pinta Nisa sambil menyodorkan segelas air putih hangat.
 “Makasih ya Sa, oya malam ini aku tidur di sini ya” ujar Mika sedikit serak.
Nisa pun mengangguk sambil terus menatap Mika.
Mika masih belum cerita tentang kejadiannya dengan Tara. Tapi Nisa memakluminya karena dia sudah tau bagaimana sikap Mika. Nisa pun menyuruh Mika tidur.

Namun,  tiba-tiba Mika menceritakan kejadiannya dengan Tara. Setelah mendengar cerita Mika, Nisa pun menjadi geram. Nisa sempat ingin menelpon Tara, namun Mika melarangnya. Akhirnya, Nisa pun menyuruh Mika untuk melupakan masalah itu dan berusaha sabar menghadapi sikap Tara. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar