Selamat Datang dan Selamat Membaca

You Raise Me Up (bagian 2)

Hari pun terus berganti. Sudah hampir sebulan Tara tidak ada kabar. Sms Mika pun jarang dia balas. Berita tentang Tara selingkuh pun sudah menyebar. Hati Mika semakin sakit dan masih belum percaya.
Karena penasaran, akhirnya Mika menuliskan pesan singkat pada Tara untuk menanyakan kabar perselingkuhannya, namun Tara malah marah dan tidak mengakuinya. Di sisi lain Mika senang karena dengan marahnya Tara berarti kabar tentang Tara selingkuh itu tidak benar. Akan tetapi, di lain sisi Mika berpikir kalau memang Tara tidak selingkuh, mengapa sikapnya berubah? Ada apa dengan Tara?
Hari-hari Mika tidak seperti dulu, dia banyak terdiam. Di kelas pun Mika nampak lesu tidak seperti biasanya. Teman-temannya pun tidak ada yang mengetahui apa yang menimpa dirinya karena hanya Nisa sahabatnya yang mengetahui keadaan Mika saat ini.
“Ka, tumbenan akhir-akhir ini lw banyak diemnya?” tanya Zahra.
Mika pun tersenyum,
“Nggak apa-apa kok, hhe…cuma lagi ngantuk aja” jawab Mika sedikit ngeles.
“O gitu, pantesan aja. O ya yang lain pada kemana ya?” Tanya Zahra lagi sambil melihat ke meja-meja yang masih kosong. .
 “Iya ya,, tapi kayanya lagi pada beli buku deh di bawah sana” ujar Mika sambil ikut melihat kiri kanan meja.
“o gt, lw udah beli buku belom?” Tanya Zahra.
“Belum sih” jawab Mika sambil memasukkan Hpnya ke dalam tas.
 “Ya udah kita susul mereka aja yuk mumpung dosennya belum datang” ajak Zahra.
Mika pun mengangguk.
Mereka langsung pergi menuju toko buku yang terletak di bawah pohon dekat Fakultas. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan Dikdik, teman sekelasnya.
“Eh ibu-ibu mau pada kemana?” Tanya Dikdik.
“Eh Dikdik, kemana ya? Kasih tau kagak ya?” ledek Zahra.
Mika dan Zahra saling pandang dan tersenyum. Dikdik pun bengong dan sedikit malu karena merasa dicuekin.
“Kita mau beli buku nih Dik” jawab Mika.  
“O.. gitu ya” ujar Dikdik sambil memperbaiki tas selendangnya.
“Hayu lw mau ikut kagak?” ajak Zahra.
 “Ah kamu, pasti bohongan ngajaknya juga?” kata Dikdik.
 Zahra pun tertawa.
 “Emang, yuk ah Mika kita tinggalin aja!” ajak Zahra pada Mika sambil memalingkan mukanya.
Dikdik pun semakin bengong melihat tingkah Zahra.
“Dik, kita duluan ya” pamit Mika.
 Mereka pun langsung meninggalkan Dikdik.
“Ikh kamu keterlaluan”  
“Haha,, biarin aja kan bercanda”
“Dasar, selalu bikin orang gendok aja”
Sesampainya di toko buku, mereka langsung memilih-milih buku yang diperlukan. Bang Jafra pemilik toko buku itu sangat ramah, sehingga setiap Mika dan teman-temannya memerlukan buku, mereka selalu pergi ke toko buku Bang Jafra.
 “Nah begitu donk sering-sering ke sini, tadi yang lain juga udah pada ke sini” ujar Bang Jafra.
 “Iya bang, sekarang ini lagi banyak tugas jadi butuh buku banyak. O.. kirain mereka kagak ke sini” ujar Zahra.
“Mereka tadi ke sini kok, emang nggak ketemu gitu?” Tanya Bang Jafra sambil melirik ke arah Mika yang dari tadi hanya diam.
 “Kagak,, hhe “  
Mika dan Zahra pun mencari-cari buku yang mereka perlukan. Setelah mereka mendapatkannya, mereka langsung membayarnya ke Bang Jafra dan bergegas menuju kelas lagi. Sesampainya depan kelas, ternyata perkuliahan telah dimulai. Mereka langsung memasuki kelas dan duduk paling belakang. Dilihatnya Erik dan Dikdik duduk bersebelahan. Sesekali Mika melihat ke arah Erik. Ingin rasanya Mika menceritakan kisahnya pada Erik, namun mereka tidak begitu dekat apalagi rasa kaku Mika terhadap Erik karena sempat mempunyai perasaan padanya.
“Syut..syut” panggil Dewi pada Mika.
 Ternyata dari tadi Dewi melihat gerak-gerik Mika.
“Ka, Mika” panggil Dewi kembali.
 Mika pun kaget.
 “Apa?” Tanya Mika pelan.
Dewi pun langsung melempar secarcik kertas yang sudah digulungnya, namun lemparannya meleset ke arah Meysa. Akhirnya, Dewi pun meminta tolong Meysa untuk memberikan kertas itu pada Mika.
Setelah kertas itu di tangan Mika, dia pun membuka gulungannya dan langsung membaca pesan di dalamnya. Ternyata Dewi mengajaknya untuk mengerjakan tugas kelompok. Mika pun langsung membalas pesan Dewi.
Jam pertama perkuliahan selesai. Mika dan teman-temannya menunggu dosen kedua.
“Beli batagor yuk” ajak Zahra.
Mika, Lia, dan Rika saling pandang.
“ayolah” ajak Zahra lagi.
 “Pengen sih tapi gimana kalo ada dosen?” ujar Rika.
 “Udah ayolah, lagian Pak Andre juga pasti telat lagi datangnya” ajak Zahra lagi.
Akhirnya mereka pun terbujuk oleh Zahra dan langsung menuju tempat batagor yang tidak jauh dari kelasnya.

Sambil menikmati batagor, mereka saling bercakap-cakap. Hp Mika berdering, ternyata sms dari Tina yang memberi tahu bahwa Pak Andre telah datang. Mereka pun langsung menghabiskan batagornya dan bergegas menuju kelas.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar