Hari pun terus
berganti. Sudah hampir sebulan Tara tidak ada kabar. Sms Mika pun jarang dia
balas. Berita tentang Tara selingkuh pun sudah menyebar. Hati Mika semakin
sakit dan masih belum percaya.
Karena
penasaran, akhirnya Mika menuliskan pesan singkat pada Tara untuk menanyakan
kabar perselingkuhannya, namun Tara malah marah dan tidak mengakuinya. Di sisi
lain Mika senang karena dengan marahnya Tara berarti kabar tentang Tara
selingkuh itu tidak benar. Akan tetapi, di lain sisi Mika berpikir kalau memang
Tara tidak selingkuh, mengapa sikapnya berubah? Ada apa dengan Tara?
Hari-hari
Mika tidak seperti dulu, dia banyak terdiam. Di kelas pun Mika nampak lesu tidak
seperti biasanya. Teman-temannya pun tidak ada yang mengetahui apa yang menimpa
dirinya karena hanya Nisa sahabatnya yang mengetahui keadaan Mika saat ini.
“Ka, tumbenan
akhir-akhir ini lw banyak diemnya?” tanya Zahra.
Mika pun
tersenyum,
“Nggak
apa-apa kok, hhe…cuma lagi ngantuk aja” jawab Mika sedikit ngeles.
“O gitu, pantesan
aja. O ya yang lain pada kemana ya?” Tanya Zahra lagi sambil melihat ke
meja-meja yang masih kosong. .
“Iya ya,, tapi kayanya lagi pada beli buku deh
di bawah sana” ujar Mika sambil ikut melihat kiri kanan meja.
“o gt, lw
udah beli buku belom?” Tanya Zahra.
“Belum sih”
jawab Mika sambil memasukkan Hpnya ke dalam tas.
“Ya udah kita susul mereka aja yuk mumpung
dosennya belum datang” ajak Zahra.
Mika pun
mengangguk.
Mereka
langsung pergi menuju toko buku yang terletak di bawah pohon dekat Fakultas. Di
tengah perjalanan mereka bertemu dengan Dikdik, teman sekelasnya.
“Eh ibu-ibu
mau pada kemana?” Tanya Dikdik.
“Eh Dikdik,
kemana ya? Kasih tau kagak ya?” ledek Zahra.
Mika dan Zahra
saling pandang dan tersenyum. Dikdik pun bengong dan sedikit malu karena merasa
dicuekin.
“Kita mau beli
buku nih Dik” jawab Mika.
“O.. gitu ya”
ujar Dikdik sambil memperbaiki tas selendangnya.
“Hayu lw mau
ikut kagak?” ajak Zahra.
“Ah kamu, pasti bohongan ngajaknya juga?” kata
Dikdik.
Zahra pun tertawa.
“Emang, yuk ah Mika kita tinggalin aja!” ajak Zahra
pada Mika sambil memalingkan mukanya.
Dikdik pun
semakin bengong melihat tingkah Zahra.
“Dik, kita
duluan ya” pamit Mika.
Mereka pun langsung meninggalkan Dikdik.
“Ikh kamu
keterlaluan”
“Haha,,
biarin aja kan bercanda”
“Dasar,
selalu bikin orang gendok aja”
Sesampainya
di toko buku, mereka langsung memilih-milih buku yang diperlukan. Bang Jafra
pemilik toko buku itu sangat ramah, sehingga setiap Mika dan teman-temannya
memerlukan buku, mereka selalu pergi ke toko buku Bang Jafra.
“Nah begitu donk sering-sering ke sini, tadi
yang lain juga udah pada ke sini” ujar Bang Jafra.
“Iya bang, sekarang ini lagi banyak tugas jadi
butuh buku banyak. O.. kirain mereka kagak ke sini” ujar Zahra.
“Mereka tadi ke
sini kok, emang nggak ketemu gitu?” Tanya Bang Jafra sambil melirik ke arah
Mika yang dari tadi hanya diam.
“Kagak,, hhe “
Mika dan
Zahra pun mencari-cari buku yang mereka perlukan. Setelah mereka mendapatkannya,
mereka langsung membayarnya ke Bang Jafra dan bergegas menuju kelas lagi. Sesampainya
depan kelas, ternyata perkuliahan telah dimulai. Mereka langsung memasuki kelas
dan duduk paling belakang. Dilihatnya Erik dan Dikdik duduk bersebelahan.
Sesekali Mika melihat ke arah Erik. Ingin rasanya Mika menceritakan kisahnya
pada Erik, namun mereka tidak begitu dekat apalagi rasa kaku Mika terhadap Erik
karena sempat mempunyai perasaan padanya.
“Syut..syut”
panggil Dewi pada Mika.
Ternyata dari tadi Dewi melihat gerak-gerik
Mika.
“Ka, Mika”
panggil Dewi kembali.
Mika pun kaget.
“Apa?” Tanya Mika pelan.
Dewi pun
langsung melempar secarcik kertas yang sudah digulungnya, namun lemparannya
meleset ke arah Meysa. Akhirnya, Dewi pun meminta tolong Meysa untuk memberikan
kertas itu pada Mika.
Setelah
kertas itu di tangan Mika, dia pun membuka gulungannya dan langsung membaca
pesan di dalamnya. Ternyata Dewi mengajaknya untuk mengerjakan tugas kelompok.
Mika pun langsung membalas pesan Dewi.
Jam pertama
perkuliahan selesai. Mika dan teman-temannya menunggu dosen kedua.
“Beli batagor
yuk” ajak Zahra.
Mika, Lia,
dan Rika saling pandang.
“ayolah” ajak
Zahra lagi.
“Pengen sih tapi gimana kalo ada dosen?” ujar
Rika.
“Udah ayolah, lagian Pak Andre juga pasti
telat lagi datangnya” ajak Zahra lagi.
Akhirnya
mereka pun terbujuk oleh Zahra dan langsung menuju tempat batagor yang tidak
jauh dari kelasnya.
Sambil
menikmati batagor, mereka saling bercakap-cakap. Hp Mika berdering, ternyata
sms dari Tina yang memberi tahu bahwa Pak Andre telah datang. Mereka pun
langsung menghabiskan batagornya dan bergegas menuju kelas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar