Seperti biasa Mika pergi
ke kosan Erik untuk mengerjakan sripksi bareng. Setibanya di kosan, dilihatnya
beberapa teman sekelasnya sedang berkumpul.
“eh Mika, sendiri aja?”
sapa Abuy
“eh ada Abuy, gimana
kabarnya?”
“baik, kamu bawa apa?”
“aku nggak bawa apa-apa
eum. Kalian udah lama di sini?”
“udah donk kan nunggu
kamu” jawab Kiki
“haha cius?” ujar Mika
sedikit nyengir
“oya Ka kamu sidang bulan
sekarang kan?” Tanya Abuy
“eum, nggak tau ni masih
belom beres” jawab Mika sambil melihat Erik yang dari tadi Cuma diam
“nah loh bukannya kamu
udah beres kan?”
“iya sih tapi tau deh,
mudah-mudahan aja bisa,,hhe”
“pulang yuk!” ajak Kiki
“kok pulang sih? Baru juga
aku datang” Tanya Mika penasaran
“yey kita udah lama tau,
kamu nya lama” tambah Abuy
Kiki dan Abuy pun pulang.
Di kosan tinggal ada Mika dan Erik serta teman-teman satu kosan Erik lainnya.
“kamu kenapa nggak sidang
sekarang?” Tanya Erik
“nggak tau kan masih belum
beres,,he”
“ko gitu, bukannya kamu
udah beres? Ya udah mendingan kamu sidang sekarang aja!”
“iya gimana nanti aja”
jawab Mika sambil mulai membuka laptop.
Mereka pun mulai
mengerjakan skripsi dan sibuk mencari
bahan-bahan skripsi di buku-buku kuliah dan contoh skripsi yang sudah jadi.
“Ka, lapar nggak? Kamu
belum makan kan?” Tanya Erik
“iya sih lapar, hhe”
“ya udah kita makan dulu,
kamu mau pesan apa?”
“apa aja deh tapi jangan
yang pedes ya”
Erik pun langsung memesan
beberapa makanan ke warung nasi langganannya. Beberapa menit kemudian pesanan
makanan pun datang. Mika dan Erik serta beberapa teman Erik pun langsung makan
bersama.
Tak terasa hari semakin
sore. Mika pun pamit pulang. Erik mengantarkannya sampai ke tempat angkot.
“maaf ya nggak dianter
soalnya nggak ada motor nih” ujar Erik
“iya nggak apa-apa ko”
“makasih ya dan hati-hati”
Mika pun tersenyum dan menumpangi
angkot yang sejak tadi menunggunya.
***
Terdengar suara telpon.
Ternyata Juli yang menelpon. Mika pun mengecilkan musik yang dari tadi dia
dengar di laptopnya.
“iya Jul, ada apa?” Tanya
Mika
“ih kamu, Jul Jul aja”
“hhe maaf-maaf, ada apa
Li?”
“nggak apa-apa Cuma pengen
nelpon aja,,hhe.. kamu lagi ngapain?”
“haha ketahuan yang lagi
kangen, pasti kangen aku ya...hhe Aku lagi dengerin musik aja” ledek Mika
“iya kangen ikh,,hhe. Oya
Ka kamu sidang sekarang kan?”
“nggak tau ni Li, bingung”
“bingung kenapa? Katanya
pengen cepat sidang?”
“iya sih, tapi gimana ya?”
“o.. gara-gara Erik ya?”
potong Juli
“aku nggak enak sama Erik
Li, dia kan pengen sidang bulan sekarang juga tapi skripsinya belum beres. Jadi
nggak tega Li”
“ko gitu sih, kamu sampai
segitunya. Ka, kalo menurut aku mendingan kamu sidang aja kan kalo kamu udah
sidang, kamu bisa fokus bantuin Erik, bener kan?”
“iya sih Li, tapi aku
beneran nggak tega Li”
“ah kamu, udah jangan
bingung-bingung”
“iya Li, gimana nanti
aja,,hhe.. “
Mereka melanjutkan dengan
bercanda-canda. Sampai akhirnya mereka mengakhiri telponnya. Mika pun bergegas
tidur karena waktu sudah semakin larut.
***
Hari ini seperti biasa dia
pergi ke kosan Erik. Namun, ada yang beda pada Mika, mukanya kelihatan pucat
banget. Sesampainya di kosan Erik, mereka pun langsung mengerjakan skripsi.
Beberapa jam mereka mengerjakan skripsi, badan Mika terasa panas, ternyata penyakitnya
kambuh lagi. Mika pun merasa tidak enak pada Erik. Dia berusaha menahan
kesakitannya.
Hari semakin sore, Mika pun
pamit pulang. Badannya semakin terasa panas dan batuk tidak berhenti. Ketika
Mika bersiap-siap untuk pulang, ternyata Erik pun bersiap-siap untuk
mengantarkan Mika. Dan ini pertama kalinya Erik mengantarkan dia pulang. Hati
Mika merasa senang, walaupun dalam hati dia merasa nggak enak karena nanti Erik
harus bulak balik. Tapi kali ini dia benar-benar butuh seseorang untuk
mengantarnya pulang karena kondisi badannya yang down.
Di tengah perjalanan mereka
hanya diam tanpa bercakap. Namun, ketika Erik menjalankan motornya dengan
kencang, spontan tangan Mika menarik baju Erik. Erik pun meledek Mika. Mika pun
menjadi malu.
Sesampainya di depan rumah
Mika, Erik langsung pamit pulang. Mika merasa khawatir pada Erik karena hari
menjelang magrib namun penampilan Erik begitu cuek tanpa jaket atau baju yang
bisa menutupi rapat tubuhnya. Mika khawatir Erik sakit. Akhirnya Mika pun
menawarkan Erik jaket tapi Erik menolaknya dan langsung pamit pulang.
Sementara Mika berjalan menuju
kamarnya. Dia pun langsung berbaring di kasurnya. Badan Mika semakin panas.
Neneknya yang mengetahui keadaannya langsung memberikan obat dan beberapa
makanan. Setelah minum obat, Mika pun tertidur.
***
Dua minggu Mika terbaring
sakit. Dia merasa khawatir pada Erik karena belum bisa menemani Erik lagi.
Setelah sembuh, Mika pun kembali menemani Erik. Namun, sampai batas yang
ditentukan, ternyata Erik belum bisa mengikuti sidang bulan sekarang. Mika pun
semakin bingung. Di sisi lain Mika ingin mengikuti sidang bulan sekarang, namun
di lain sisi dia merasa nggak tega sama Erik.
Akan tetapi, Mika menjadi
takut jika dia harus menunda sidang, teman-teman yang lain mengira karena Erik.
Akhirnya dia pun mendaftarkan diri untuk ikut sidang. Mika pun bergegas menuju
kampus. Di tengah jalan Mika bertemu dengan Radit teman satu jurusannya. Mereka
pun akhirnya pergi bersama ke fakultas.
Nampak di depan ruangan TU
telah banyak mahasiswa yang sedang antri mendaftar untuk sidang. Tiba giliran
Mika, dia langsung memberikan berkas-berkas persyaratan sidang kepada TU.
“gimana udah beres Ka?” Tanya
Radit
“o iya Dit, udah ko”
“habis ini mau kemana?”
“kayanya aku mau ke rumah
teman deh, jadi aku duluan ya”
“o, gitu.. ya udah kalo gitu”
Mika pun langsung meninggalkan
Radit. Dia menuju rumah Tina karena hari ini dia mau menginap di rumah Tina.
***
“gimana Ka, kamu jadi daftar
sidang sekarang?” Tanya Tina
“iya jadi” jawab Mika melemas
“sama Erik juga kan?”
Mika hanya menggelengkan
kepalanya.
“jadi Erik nggak sidang
sekarang? Kenapa?”
“aku jadi nggak tega Na,
tadinya aku juga nggak akan daftar sekarang tapi nggak enak ama yang lain juga
sih”
“o, ya udah lah nggak apa-apa
yang penting sekarang kamu bisa sidang, nanti juga Erik menyusul. Tapi emang
sih kasian ya Erik bukannya kata kamu dia pengen banget ikut sidang sekarang?”
Mika hanya menghela nafasnya dengan
muka sedikit cemberut. Melihat wajah Mika yang cemberut, Tina pun menghiburnya
dengan mengajak nonton film yang baru dia beli.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar