Selamat Datang dan Selamat Membaca

You Raise Me Up (bagian 15)

        Seperti biasa Mika pergi ke kosan Erik untuk mengerjakan sripksi bareng. Setibanya di kosan, dilihatnya beberapa teman sekelasnya sedang berkumpul.
“eh Mika, sendiri aja?” sapa Abuy
“eh ada Abuy, gimana kabarnya?”
“baik, kamu bawa apa?”
“aku nggak bawa apa-apa eum. Kalian udah lama di sini?”
“udah donk kan nunggu kamu” jawab Kiki
“haha cius?” ujar Mika sedikit nyengir
“oya Ka kamu sidang bulan sekarang kan?” Tanya Abuy
“eum, nggak tau ni masih belom beres” jawab Mika sambil melihat Erik yang dari tadi Cuma diam
“nah loh bukannya kamu udah beres kan?”
“iya sih tapi tau deh, mudah-mudahan aja bisa,,hhe”
“pulang yuk!” ajak Kiki
“kok pulang sih? Baru juga aku datang” Tanya Mika penasaran
“yey kita udah lama tau, kamu nya lama” tambah Abuy
          Kiki dan Abuy pun pulang. Di kosan tinggal ada Mika dan Erik serta teman-teman satu kosan Erik lainnya.
“kamu kenapa nggak sidang sekarang?” Tanya Erik
“nggak tau kan masih belum beres,,he”
“ko gitu, bukannya kamu udah beres? Ya udah mendingan kamu sidang sekarang aja!”
“iya gimana nanti aja” jawab Mika sambil mulai membuka laptop.
          Mereka pun mulai mengerjakan skripsi  dan sibuk mencari bahan-bahan skripsi di buku-buku kuliah dan contoh skripsi yang sudah jadi.
“Ka, lapar nggak? Kamu belum makan kan?” Tanya Erik
“iya sih lapar, hhe”
“ya udah kita makan dulu, kamu mau pesan apa?”
“apa aja deh tapi jangan yang pedes ya”
       Erik pun langsung memesan beberapa makanan ke warung nasi langganannya. Beberapa menit kemudian pesanan makanan pun datang. Mika dan Erik serta beberapa teman Erik pun langsung makan bersama.
         Tak terasa hari semakin sore. Mika pun pamit pulang. Erik mengantarkannya sampai ke tempat angkot.
“maaf ya nggak dianter soalnya nggak ada motor nih” ujar Erik
“iya nggak apa-apa ko”
“makasih ya dan hati-hati”
             Mika pun tersenyum dan menumpangi angkot yang sejak tadi menunggunya.
***
           Terdengar suara telpon. Ternyata Juli yang menelpon. Mika pun mengecilkan musik yang dari tadi dia dengar di laptopnya. 
“iya Jul, ada apa?” Tanya Mika
“ih kamu, Jul Jul aja”
“hhe maaf-maaf, ada apa Li?”
“nggak apa-apa Cuma pengen nelpon aja,,hhe.. kamu lagi ngapain?”
“haha ketahuan yang lagi kangen, pasti kangen aku ya...hhe Aku lagi dengerin musik aja” ledek Mika
“iya kangen ikh,,hhe. Oya Ka kamu sidang sekarang kan?”
“nggak tau ni Li, bingung”
“bingung kenapa? Katanya pengen cepat sidang?”
“iya sih, tapi gimana ya?”
“o.. gara-gara Erik ya?” potong Juli
“aku nggak enak sama Erik Li, dia kan pengen sidang bulan sekarang juga tapi skripsinya belum beres. Jadi nggak tega Li”
“ko gitu sih, kamu sampai segitunya. Ka, kalo menurut aku mendingan kamu sidang aja kan kalo kamu udah sidang, kamu bisa fokus bantuin Erik, bener kan?”
“iya sih Li, tapi aku beneran nggak tega Li”
“ah kamu, udah jangan bingung-bingung”
“iya Li, gimana nanti aja,,hhe.. “

            Mereka melanjutkan dengan bercanda-canda. Sampai akhirnya mereka mengakhiri telponnya. Mika pun bergegas tidur karena waktu sudah semakin larut.  
***  
           Hari ini seperti biasa dia pergi ke kosan Erik. Namun, ada yang beda pada Mika, mukanya kelihatan pucat banget. Sesampainya di kosan Erik, mereka pun langsung mengerjakan skripsi. Beberapa jam mereka mengerjakan skripsi, badan Mika terasa panas, ternyata penyakitnya kambuh lagi. Mika pun merasa tidak enak pada Erik. Dia berusaha menahan kesakitannya.
           Hari semakin sore, Mika pun pamit pulang. Badannya semakin terasa panas dan batuk tidak berhenti. Ketika Mika bersiap-siap untuk pulang, ternyata Erik pun bersiap-siap untuk mengantarkan Mika. Dan ini pertama kalinya Erik mengantarkan dia pulang. Hati Mika merasa senang, walaupun dalam hati dia merasa nggak enak karena nanti Erik harus bulak balik. Tapi kali ini dia benar-benar butuh seseorang untuk mengantarnya pulang karena kondisi badannya yang down.
           Di tengah perjalanan mereka hanya diam tanpa bercakap. Namun, ketika Erik menjalankan motornya dengan kencang, spontan tangan Mika menarik baju Erik. Erik pun meledek Mika. Mika pun menjadi malu.
Sesampainya di depan rumah Mika, Erik langsung pamit pulang. Mika merasa khawatir pada Erik karena hari menjelang magrib namun penampilan Erik begitu cuek tanpa jaket atau baju yang bisa menutupi rapat tubuhnya. Mika khawatir Erik sakit. Akhirnya Mika pun menawarkan Erik jaket tapi Erik menolaknya dan langsung pamit pulang.
       Sementara Mika berjalan menuju kamarnya. Dia pun langsung berbaring di kasurnya. Badan Mika semakin panas. Neneknya yang mengetahui keadaannya langsung memberikan obat dan beberapa makanan. Setelah minum obat, Mika pun tertidur.
***
         Dua minggu Mika terbaring sakit. Dia merasa khawatir pada Erik karena belum bisa menemani Erik lagi. Setelah sembuh, Mika pun kembali menemani Erik. Namun, sampai batas yang ditentukan, ternyata Erik belum bisa mengikuti sidang bulan sekarang. Mika pun semakin bingung. Di sisi lain Mika ingin mengikuti sidang bulan sekarang, namun di lain sisi dia merasa nggak tega sama Erik.
         Akan tetapi, Mika menjadi takut jika dia harus menunda sidang, teman-teman yang lain mengira karena Erik. Akhirnya dia pun mendaftarkan diri untuk ikut sidang. Mika pun bergegas menuju kampus. Di tengah jalan Mika bertemu dengan Radit teman satu jurusannya. Mereka pun akhirnya pergi bersama ke fakultas.
Nampak di depan ruangan TU telah banyak mahasiswa yang sedang antri mendaftar untuk sidang. Tiba giliran Mika, dia langsung memberikan berkas-berkas persyaratan sidang kepada TU.
“gimana udah beres Ka?” Tanya Radit
“o iya Dit, udah ko”
“habis ini mau kemana?”
“kayanya aku mau ke rumah teman deh, jadi aku duluan ya”
“o, gitu.. ya udah kalo gitu”
          Mika pun langsung meninggalkan Radit. Dia menuju rumah Tina karena hari ini dia mau menginap di rumah Tina.
***
“gimana Ka, kamu jadi daftar sidang sekarang?” Tanya Tina
“iya jadi” jawab Mika melemas
“sama Erik juga kan?”
          Mika hanya menggelengkan kepalanya.
“jadi Erik nggak sidang sekarang? Kenapa?”
“aku jadi nggak tega Na, tadinya aku juga nggak akan daftar sekarang tapi nggak enak ama yang lain juga sih”
“o, ya udah lah nggak apa-apa yang penting sekarang kamu bisa sidang, nanti juga Erik menyusul. Tapi emang sih kasian ya Erik bukannya kata kamu dia pengen banget ikut sidang sekarang?”
        Mika hanya menghela nafasnya dengan muka sedikit cemberut. Melihat wajah Mika yang cemberut, Tina pun menghiburnya dengan mengajak nonton film yang baru dia beli. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar